– IRONIC –
-IRONIC-
Kenapa mudah sekali melupakan kebaikan seseorang namun susah untuk melupakan kesalahannya. Kenapa hal-hal indah menjadi begitu ngga berarti begitu hal buruk datang mengganggu. Kenapa menyalahkan itu gampang dibandingkan berjiwa besar dan mengaku salah, atau mengalah?
Kadang kita begitu dibutakan oleh kesalahan seseorang sampai kita lupa, semua manusia itu ga ada yang sempurna, semua pasti punya salah, sedikit atau banyak. Kadang rasa marah kita membuat kita lupa dengan kebaikan orang tadi terhadap kita.
Saat dia buat kita menangis, kita lupa, bahwa selama ini, setiap kita menangis, dia selalu ada buat kita, menghapus air mata kita, menyemangati kita, membuat kita tertawa.
Saat dia buat kita marah, kita lupa, bahwa selama ini, setiap kita marah, dia yang meredam amarah kita, yang mendinginkan kepala kita, yang mencari jalan keluar buat kita.
Saat dia ingkari janji, kita lupa, bahwa selama ini dia yang mengerti bila kita lupa, yang merubah rencananya buat kita, yang berjalan jauh, berlari cepat agar kita tidak kecewa.
Saat dia menentang keinginan kita, kita lupa, bahwa selama ini yang dia pikirkan adalah kebaikan kita, bahwa kita yang dia nomorsatu kan salam segalanya, bahwa bila kita mau mendengar alasannya, itu pasti yang terbaik buat kita.
Saat dia mengatur hidup kita, kita lupa, bahwa saat hidup kita porak poranda, saat tak ada teman untuk berbagi, saat seisi dunia seolah memusuhi, dia yang ada disana bersama membenahinya. memutar segalanya, menjadikan kita manusia yang lebih baik.
Saat dia tak ingin mendengar, kita lupa bahwa selama ini, dua telinganya tersedia buat kita setiap saat, bukan hanya untuk mendengar masalah kita, kadang masalah keluarga kita, mungki tanpa kita sadari saat itu dia yang ingin didengar
Saat dia menomor duakan kita, kita lupa bahwa selama ini kita selalu menomor duakan dia. Dengan segala urusan pekerjaan kita, atau teman2 kita, atau hobi kita, dan lain sebagainya.
Saat dia lelah mengurusi kita, kita lupa bahwa mungkin dia yang terjaga dipagi hari untuk membuat sarapan kita sebelum bekerja, atau dia yang ada disaat kita sakit, dia yang meregangkan otot kita saat kita lelah. Dia yang menggaruk kita di tempat yang benar, atau dia yang ada untuk memastikan baju kita rapi, atau dia yang memastikan kamar kita bersih, atau dia yang memastikan kita terbangun agar tak terlambat subuh dan bekerja, dia yang membersihkan telinga kita, yang menutupi luka kita agak tak basah, dia yang menjadi agenda berjalan kita agar kita tidak lupa semua rencana.
Saat dia tak menghargai perasaan kita, kita lupa bahwa mungkin kita yang menganggap remeh dia, bahwa kita yang tak bisa mempercayai dia, bahwa kadang kata2 yang keluar dari mulut kita, atau atau teman2 kita ttg dia, atau keluarga kita ttg dia menyakiti hatinya, tapi dia diam… karena dia lebih menghargai perasaan kita.
Saat dia mengkritik kita, kita lupa bahwa mungkin dia yang selama ini selalu membanggakan kita didepan semua orang, bahwa dia hanya ingin kita menjadi lebih baik, dan tidak besar kepala.
Saat dia menghabiskan uang kita, kita lupa bahwa mungkin dia akan berbuat apapun untuk membuat kita dapatkan apa yang kita mau. Bahwa mungkin dia sisihkan uangnya untuk sesuatu yang kita mau, bahwa alasannya bekerja keras untuk membeli dan mengejutkan kita dengan apa yang kita mau, bahwa bukan hanya untuk dirinya dia bekerja, tapi untuk kita, bahkan mungkin keluarga kita.
Saat dia membuat kita terjaga tak bisa tertidur, kita lupa bahwa mungkin dia habiskan malam panjangnya untuk memikirkan kita, untuk menemani kita melewati waktu, bahwa dia ingin tertidur untuk memimpikan kita, bahwa dia ingin cepat terjaga untuk bisa bertemu kita lagi secepatnya, atau bahwa dia yang selama ini terjaga, hanya untuk memastikan kita tertidur nyenyak dan bermimpi indah, tersenyum dan terlepas lelah.
Saat dia membuat kita merasa terkekang, kita lupa bahwa mungkin dia yang selama ini mengorbankan waktunya, meninggalkan teman dan orang2 yang disayanginya, berbuat segalanya agar kita merasa diterima, agar kita punya teman untuk berbagi saat suka dan duka.
Saat dia membuat kita merasa dunia ini tak adil, kita lupa bahwa mungkin dia yang selama ini memutar dunianya buat kita tanpa memikirkan keadilan, tanpa berharap kita merubah diri kita, bahwa dia yang menerima kita apa adanya.
Saat dia tidak memperdulikan kita, mungkin kita lupa bahwa kita sering mengacuhkannya, saat kita terlarut dalam kesenangan kita, dan bahwa selama ini dia hanya tersenyum bahagia melihat tawa kita dari kejauhan
Saat dia merasa paling benar, mungkin kita lupa bahwa memang apa yang dia rasakan menjadi benar, bahwa apa yang dia takutkan menjadi nyata, apa yang dia perdiksikan menjadi real, apa yang kita bilang tidak sesungguhnya iya. Dan dia hanya membagi perasaannya.
Saat dia melarikan diri dari kita, mungkin kita lupa, bahwa dia hanya ingin sejenak menjadi dirinya, bahwa dia tak ingin kita melihat air matanya, bahwa dia tidak ingin kita melihat amarahnya, bahwa dia ingin sejenak berdiskusi dengan hati kecilnya, bahwa dia lakukan itu bukan untuk kita kejar, tapi untuk sambut lagi dengan pengertian.
Saat dia tidak mau lagi meminta maaf, mungkin kita lupa bahwa dia yang selama ini membolehkan kita berbuat semau kita, bahwa dia yang memaafkan tanpa kita sadar kita menyakitinya, saat kita terus mengulangi kesalahan kita meski kita tau itu membuatnya terluka, saat dia meminta maaf pada orang2 yang kita sakiti tanpa kita sadari agar kita tidak dimusuhi.
Saat dia selalu menaruh curiga, mungkin kita lupa selama ini kita yang membuatnya kehilangan kepercayaan baik pada dirinya maupu pada yang lain, bahwa kita yang membohonginya, bahwa kita yang menghianati dia, bahwa kita yang mencurigai dia meskipun dia tidak melakukan apa2.
Saat dia diam membisu tak mau bicara pada kita, mungkin kita lupa bahwa ditanganya aman rahasia kita, bahwa dia melindungi kesalahan, kelemahan kita. Bahwa dia akan selalu mendengar tanpa menyebar cerita kita. Bahwa saat dai diam, sesungguhnya hati dan pikirannya berperang, bahwa dia tidak ingin sakit hati kita mendengar ucapannya.
Saat dia memaksakan keinginannya, mungkin kita lupa, kalo dia korbankan dunianya buat kita, dia beri segala2nya yang dia puna dan jaga buat kita, bahwa dia ingin terus membahagiakan kita, bahwa dia selalu mendoakan kita, bahwa dia berlutut meminta ampun untuk dosa kita dihadapan Tuhannya.
Saat dia mengancam kita, mungkin kita lupa, bahwa ancamannya hanya karena dia tak tau lagi harus berbuat apa, bahwa pengertian kita tidak pernah lagi dia dapatkan, saat doanya seakan tak didengar, saat yang kita lakukan justru hanya membuatnya lebih luka. Saat yang kita lakukan hanya mempermalukannya di depan orang lain, saat kita seolah membalas perlakuaanya pada kita.
Saat dia tak mampu lagi menghadapi hidup, mungkin kita lupa kalau dia punya batas untuk mengerti, untuk memahami, menerima, menyayangi, memaafkan, mendukung. Bahwa dia sudah selesai berbicara dan mendengarkan. Bahwa dia sudah tak bisa lagi menangis, tertawa, atau marah. Bahwa dia mungkin merasa gila.
Ironis, bahwa kadang kita tidak menyadari bahwa kita menyakiti, bahwa kita menyalahkan, bahwa kita melupakan orang yang mungkin berbuat lebih banyak buat kita. Yang selalu ada buat kita.
Ironis, bahwa kadang kita bilang kita benci seseorang, dan tak mau lagi dia ganggu, padahal, mungkin dia yang menjadikan kita seperti kita yang sekarang, dan meski apa yang kita lakukan, tak akan dia membenci kita.
Ironis, bahwa kita dengan mudah memberinya janji, membuatnya hidup dengan menghirup harapan, tapi kita dengan mudahnya mengingkari janji kita. Membuat dia mempertanyakan keadilan Tuhan, membuatnya terlalu takut untuk kembali memiliki impian.
Ironis, bahwa kadang kita pergi meninggalkan seseorang, dan tak mau tau apa yang terjadi pada dia, karena kita membencinya. Tapi mungkin doanya yang selama ini melindungi kita. Bahwa dia tetap mengharapkan yang terbaik buat kita.
Ironis, bahwa kadang kita menganggap kita ada ditempat yang lebih baik dari sebelumnya, tanpa kita peduli ditempat yang bagaimana dia kini berada.
Ironis, mungkin suatu saat kita disadarkan, dia tak lagi ada disana, karena kita mengusirnya terlalu jauh, menghinanya terlalu tajam, menyakitinya terlalu kejam.
Andai semuanya memiliki rumus matematika, mungkin kita bisa lebih bijak dalam mengingat seseorang… Apa kita menganggapnya sebagai trouble-maker dalam hidup kita atau sebaliknya.
June 10th, 2007 at 10:08 pm
Keren Banget Rimaahhh… ku curi yah beberapa hahhaha